Analisis Ekspor Kelapa Sawit Berdasarkan Jenis Produk

Tumbuhan kelapa sawit memiliki banyak produk turunan yang diproses secara berbeda dalam setiap tahapan penyulingan. Atas dasar klasifikasi melalui kode HS (Harmonized System), kami ingin membahas pengaruh produk
turunan sawit terhadap ekspor Indonesia.

Secara keseluruhan volume ekspor produk sawit
meningkat 11% menjadi 15,6 juta ton pada periode
Jan-Mei 2021. Peningkatan ini dapat dikaitkan
dengan pemulihan dari pandemi Covid-19 dimana
demand negara-negara akan produk pangan
meningkat, demikian juga demand produk sawit
terutama sebagai bahan baku pangan.


Sementara peningkatan dari nilai ekspor sebesar
62% adalah dampak dari meningkatnya rata-rata
harga sawit (CPO) sebesar 70%, dari rata-rata
harga sebesar USD 590/ton pada Jan-Mei 2020
menjadi USD 1.005/ton pada Jan-Mei 2021. Perlu
juga diketahui bahwa sepuluh produk ekspor sawit
teratas Indonesia mencakup 93,7% dari total volume
ekspor.

Produk yang mengalami peningkatan volume ekspor
• RBD Palm Olein mengalami peningkatan volume
ekspor sebesar 56% pada tahun 2021. Produk yang
penggunaan utamanya adalah sebagai minyak
goreng untuk masak ini mengalami peningkatan
demand karena basis rendah pada tahun 2020
akibat pandemi yang berdampak negatif terutama
pada sektor HoReCa (hotel, restoran, dan catering)
sehingga mengurangi demand produk pangan.

• RBD Palm Oil juga mengalami peningkatan 40%
pada tahun 2021 karena pungutan ekspor produk
turunan yang yang lebih rendah (USD 20/ton)
dibandingkan CPO (USD 50/ton). Karena RBD
Palm Oil merupakan produk turunan pertama dari
CPO dan dapat diproses menjadi berbagai macam
produk turunan lainnya, maka kedua produk ini
dapat saling dipertukarkan.

• Ekspor cangkang kernel sawit telah mengalami
peningkatan yang konsisten sejak tahun 2017,
kembali naik pada awal tahun 2021 sebesar
26% dibantu oleh demand Jepang atas produk
ini untuk meningkatkan penggunaan energi
terbarukan dengan membangun pembangkit
listrik tenaga biomassa dimana bahan bakunya
adalah cangkang kernel sawit.


• RBD palm Stearin juga mencatat peningkatan
signifikan sebesar 40%. Produk yang digunakan
dalam proses produksi sabun ini menuai
dampak dari naiknya kesadaran masyarakat
atas kebersihan dalam rangka melawan virus
Covid-19.

Produk yang mengalami penurunan volume ekspor


• Volume ekspor CPO mengalami penurunan
drastis sebesar 55% pada Jan-Mei 2021
disebabkan oleh tingginya tarif pungutan ekspor
pada periode ini yaitu USD 255/ton, 5 kali lipat
lebih tinggi dari tarif pungutan ekspor periode
yang sama tahun 2020 yaitu USD 50/ton.
Tingginya tarif PE ini mengalihkan demand CPO
kepada produk turunan lainnya yang memiliki
tarif PE lebih rendah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.