Membandingkan Performa Ekspor Sawit Indonesia – Malaysia

Meskipun pandemi virus Covid-19 telah membatasi konsumsi minyak nabati global, namun pada kuartal kedua tahun 2020, negara-negara pengimpor utama telah mulai melakukan re-stock dari produsen utama Indonesia dan
Malaysia yang memegang sekitar 85% pangsa pasar kelapa sawit.

Analisis Hasil Performa Ekspor Indonesia dan
Malaysia


Pada periode Januari-Mei 2021, Indonesia
mencatat peningkatan volume ekspor 11%,
sedangkan volume ekspor Malaysia pada periode
Jan-Jul 2021 menurun 11%. Meskipun demikian,
nilai ekspor dari kedua negara ini meningkat (62%
untuk Indonesia dan 36% untuk Malaysia) karena
naiknya harga CPO serta produk turunannya pada
tahun 2021, dimana harga mencapai level tertinggi
sepanjang masa.

Pergeseran Pangsa Pasar


Telah terjadi pergeseran pangsa pasar ekspor
sawit pada awal tahun 2021. Indonesia berhasil mempertahankan/memperoleh pangsa pasar di
Tiongkok, Pakistan, Belanda, dan Jepang. Sedangkan
Malaysia memperoleh pangsa pasar India, Iran, dan
Kenya.

Tiongkok

Berbalik dari tahun 2020, ekspor Malaysia ke
Tiongkok justru turun 42% ke 0,9 juta ton,
sedangkan peningkatan demand ekspor sawit
Indonesia terbesar datang dari Tiongkok dimana
volume ekspor naik hampir 2 kali lipat menjadi 2,3
juta ton. Peningkatan ini terjadi karena basis rendah
pada tahun 2020 di mana demand terganggu oleh
wabah virus Covid-19 yang menyebabkan Tiongkok
untuk memasuki lockdown pada awal tahun 2020.

India

India adalah pasar yang sensitif terhadap harga
karena 94% penggunaan sawitnya adalah untuk
kebutuhan pangan. Karena tarif pungutan ekspor
Indonesia yang tinggi pada tahun 2021 membatasi
keuntungan produsen, maka produsen sawit
Indonesia harus mematok harga internasional yang
lebih tinggi daripada produsen sawit Malaysia. Oleh
sebab itu, ekspor Indonesia ke India (Jan-Mei) turun
34% ke 1,3 juta ton sedangkan ekspor Malaysia ke
India (Jan-Jul) naik 113% ke 1,8 juta ton.

Jepang

Jepang telah meningkatkan impor minyak sawit dari
Indonesia pada awal tahun 2021 sebesar 1,4 juta
ton, meningkat 29% dari periode yang sama tahun
lalu dan mengalahkan India untuk posisi nomor 2. Hal ini adalah bukti dari kesuksesan Indonesia-Japan
Economic Partnership Agreement (IJEPA) yang telah
meningkatkan ekspor sawit ke Jepang sebesar 3 kali
lipat dibandingkan tahun 2016 seiring pertumbuhan
kebutuhan cangkang sawit sebagai bahan baku
pembangkit listrik berbasis biomassa Jepang.

Kenya

Pertumbuhan kebutuhan sawit besar juga terjadi
pada Kenya yang mencatat peningkatan volume
impor sawit sebesar 96% dari Malaysia. Negara ini
sangat bergantung pada impor minyak dan lemak
karena perkiraan produksi lokal minyak bunga
matahari dan kapas hanya berjumlah 3.400 MT
pada tahun 2019. Minyak sawit memegang pangsa
pasar sekitar 93% dari total konsumsi minyak dan
lemak di Kenya dengan konsumsi sekitar 915 ribu
ton pada tahun 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *