Prospek Demand Minyak Nabati Uni Eropa, India, dan Tiongkok

Cuaca adalah salah satu faktor terbesar yang menentukan supply minyak nabati. Hal ini akan sangat memengaruhi demand dari negara-negara pengimpor minyak nabati yang memiliki toleransi yang sangat berbeda terhadap
harga serta kondisi permintaan domestik yang juga sangat beragam.

Uni Eropa


• Minyak sawit diproyeksikan akan menerima hambatan yang lebih berat untuk
memasuki pasar Eropa. Suara intensif dari Parlemen untuk melarang penggunaan
minyak sawit pada tahun 2021 secara bertahap akan menurunkan konsumsi minyak
sawit.


• Pasar Eropa masih mengandalkan produksi domestik terutama minyak rapeseed
untuk memenuhi kebutuhan minyak nabatinya. Impor minyak nabati Eropa juga
diperkirakan menurun 12.6% ke 10,6 juta ton pada tahun 2020/21F dibanding
tahun sebelumnya.


• Dari 25,98 juta ton konsumsi minyak nabati Eropa pada tahun 2020/21F, minyak
rapeseed masih mendominasi dengan konsumsi sebanyak 9 juta ton atau 35% pangsa
pasar diikuti oleh minyak sawit dengan 6,8 juta ton atau 26% pangsa pasar.

India


• Pasar minyak India masih akan mengandalkan impor karena rendahnya jumlah
produksi dalam negeri. Pada tahun 2019/2020 kemarin, produksi domestik hanya
mencapai 35% dari konsumsi domestik dan India harus mengimpor sekitar 65% dari
kebutuhan minyak nabatinya.


• Pada tahun 2020/21F, impor India masih didominasi minyak sawit sebanyak 8,4 juta
ton atau 58% dari total impor, diikuti dengan minyak kedelai dengan impor sebesar
3,7 juta ton atau 25% dari total impor.


• Dominasi minyak sawit di pasar impor India masih akan berlanjut karena India
merupakan pasar yang sangat sensitif terhadap harga dan sebagian besar penggunaan
minyak nabati nya adalah untuk pangan. Minyak sawit memiliki harga yang sangat
kompetitif, apalagi ditambah dengan penurunan pajak impor India dan pencabutan
restriksi impor untuk produk sawit yang akan mengalihkan demand dari minyak
lainnya.

Tiongkok

• Saat ini Tiongkok sangat bergantung pada impor kedelai karena lebih dari 80%
dikonsumsi menjadi pakan ternak babi yang telah pulih dari African Swine Fever dan
sisanya digunakan untuk kebutuhan minyak goreng.

• Impor Minyak sawit terlihat stagnan selama 3 tahun terakhir di 6,8 juta ton sedangkan
impor minyak kedelai telah meningkat 12,3% sejak tahun 2018/19.

• Namun Tiongkok diperkirakan akan menurunkan impor minyak kedelai di tahun
2022 akibat rencana peningkatan produksi kedelai dalam negeri untuk mengurangi
ketergantungan impor.

Leave a Reply

Your email address will not be published.