Kisah Sukses Program PSR hingga 2021

Pada bulan Oktober 2017, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan menjadi kabupaten pertama di Indonesia yang melakukan percontohan implementasi program PSR. Tiga tahun kemudian, kebun sawit yang baru sudah dapat menghasilkan panen, bahkan lebih cepat dari perkiraan. Seluruh PSR di Kabupaten Muba dilaksanakan oleh Koperasi. Hingga Juli 2021, terhitung sudah 7 koperasi berpartisipasi dengan luas yang bisa dipanen sebesar 6.000 ha.

Kabupaten Musi Banyuasin (Muba)

Rasio rekomtek/tertanam terbesar di Indonesia
Rekomtek = 15.480 ha

Yang sudah tertanam = 14.800 ha (95%)

Rata-rata produktivitas kebun PSR Kab. Muba =
4 ton/ha/6 bulan

Pekebun Sawit yang Berdaulat
Pada awal diluncurkannya program PSR, kemampuan
lembaga pekebun (seperti koperasi) melaksanakan
peremajaan diragukan, mengakibatkan dana PSR
sulit diperoleh. Banyak pihak yang mencetuskan
agar replanting diserahkan kepada perusahaan.
Namun, bagi Bapak Deddy Widyastono—dari
Dinas Perkebunan dan Koordinator PSR Kabupaten
Muba—Disbun Muba sudah sejak awal melakukan
pembinaan bagi para pekebun. Beliau yakin jika
diberikan kesempatan dan pembinaan yang tepat,
para kelembagaan pekebun dapat melaksanakan
peremajaan kebun mereka sendiri.

Berdasarkan tekad ini, 4 koperasi (Mukti Jaya,
Suka Makmur, Sumber Jaya Lestari, dan Tri Bakti
Sentosa) mengajukan paparan untuk meyakinkan
BPDP-KS dan Ditjenbun bahwa mereka mampu
melaksanakan replanting sendiri. Keberhasilan ini
tidak luput dari kajian dan diskusi yang panjang dan
mendetail serta dukungan Dinas dan Bupati Muba.

Bibit Unggul


Untuk memastikan keberhasilan peremajaan sawit,
sejak awal kesediaan bibit dan penebang pohon tua
sudah harus ditetapkan.
Pemilihan bibit tidak boleh sembarangan, harus
merupakan bibit yang resmi dan memiliki izin
waralaba untuk menjaga kualitas hasil kebun.
Untuk memenuhi 4.446 ha peremajan kebun sawit,
varietas bibit yang dipilih berasal dari PPKS Medan.
Persetujuan pemenuhan bibit dalam jumlah besar

dilakukan dengan penandatanganan perjanjian
(MoU). Bibit yang diperoleh dengan harga
kesepakatan asosiasi sebesar Rp 40 ribu untuk bibit
umur 12 bulan (bibit yang sama di pasaran harganya
sekitar Rp 43-45 ribu).
Kontraktor untuk pelaksana land clearing dipilih
dengan ketat berdasarkan pengalaman dan
performa perusahaan tersebut. Peremajaan
dilakukan melalui sistem penebangan pohon tua
per kavling, diikuti dengan pembuatan lubang
tanam, dan penanaman bibit. Sistem ini dilakukan
secara terkoordinasi sehingga dalam waktu 6 bulan,
4.446 ha selesai tutup tanam.
Penyelesaian replanting oleh koperasi Muba dalam
batas waktu yang diharapkan, menjadi bukti bahwa
lembaga perkebunan mampu melaksanaan PSR
kebun mereka sendiri.

Bertindak cepat


Disbun Muba selalu berusaha untuk bergerak
seefisien mungkin dalam pelaksanaan PSR-nya.
Begitu rekomtek dikeluarkan, RAB langsung disusun.
Kemudian, calon mitra koperasi langsung dipersiapkan
dan MoU ditandatangani. Sehingga, saat dana PSR
disetujui, proses replanting bisa langsung dijalankan
dengan jeda tidak lebih dari 1 bulan.

Yang harus diperhatikan untuk keberhasilan PSR: pendampingan jangan sebatas sampai dana PSR habis
(biasanya habis di P0-P1), idealnya pembinaan harus sampai P3.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *