Masa Jaya Industri Sawit

Harga CPO pada tahun 2021 telah mencapai titik tertinggi dan berhasil stabil di kisaran tinggi RM 4.400-4.700 sepanjang kuartal ketiga. Harga yang tinggi tersebut berdampak luas pada masyarakat maupun negara mengingat
sawit adalah komoditas unggulan Indonesia.

Periode harga CPO diperdagangkan di atas RM 3.500/ton hanya pernah terjadi tiga kali sejak CPO diperdagangkan di bursa Malaysia. Ketiga periode tersebut memiliki dua kesamaan ,yaitu bahwa peningkatan harga didorong oleh pasokan minyak nabati yang ketat serta harga minyak mentah yang meningkat drastis dalam kurun waktu yang pendek.

Apakah harga tinggi selamanya baik untuk industri, atau justru menjadi peringatan pada rantai produksi paling ujung bahwa hanya ada jalan turun?

Berdasarkan pola harga yang berlaku, harga CPO selalu turun drastis dalam kurun waktu delapan sampai sembilan bulan setelah mencapai puncaknya mendekati RM 4.000/ton. Di tahun 2008 turun 64% dan di tahun 2011 turun 29%.

Meskipun harga CPO tahun ini telah mengalami penurunan serupa di bulan Juni ketika turun sekitar 28% dari puncaknya di RM 4.788/ton, namun harga bangkit kembali dan terus diperdagangkan dalam kisaran tinggi untuk sisa kuartal ketiga tanpa tanda- tanda melambat.

Dalam jangka pendek, harga yang tinggi baik bagi perekonomian negara-negara produsen seperti Indonesia dan Malaysia. Tetapi kita harus berhati- hati dan mengantisipasi penurunan yang akan datang karena faktor bullish telah cukup mereda.

Penurunan harga besar-besaran mungkin tidak merugikan perusahaan seperti halnya bagi petani yang mata pencahariannya bergantung pada harga TBS. Di sini BPDPKS sebagai pengawal industri sawit memiliki peran untuk meredam dampak sosial dan ekonomi dari penurunan harga bagi pekerja kebun.

Dampak Positif Tingginya Harga CPO pada Indonesia

Harga CPO yang tinggi akan meningkatkan daya tarik industri kelapa sawit bagi pengusaha maupun pekerja serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara melalui ekspor. Industri sawit nasional dari hulu hingga hilir memiliki peranan penting bagi kesejahteraan sosial dan ekonomi nasional. Berdasarkan data dari Kemendag, tercatat empat kontribusi sawit bagi Indonesia, yaitu:

  • Menciptakan lapangan kerja sebanyak 4,2 juta orang pekerja langsung dan 12 juta orang
    pekerja tidak langsung.
  • Mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 3,5% dari total Pendapatan
    Domestik Bruto (PDB).
  • Membantu perolehan devisa negara, rata-rata sebesar 13,5% dari ekspor non-migas
    setiap tahunnya.
  • Mendorong kemandirian energi melalui bahan bakar nabati atau biodiesel yang menghemat
    devisa impor solar senilai USD 8 miliar per tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *