Analisa Kinerja Ekspor Sawit Indonesia

Meskipun volume ekspor sawit Indonesia tidak banyak berubah dibanding tahun lalu, namun peningkatan harga sawit pada tahun 2021 berkontribusi besar pada peningkatan nilai ekspor sawit Indonesia.

Volume Ekspor Indonesia menurut Kode HS

Periode 2020 – Juli 2021; Dalam Ribu Ton

Review Performa Ekspor

Pada periode Januari – Juli 2021, volume ekspor sawit Indonesia  hanya  mencatat  peningkatan  1% menjadi 20,9 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya. Dari 10 jenis produk ekspor teratas yang mencakup 93% dari total volume ekspor, hanya ekspor CPO dan RBD Palm Olein dalam kemasan yang menurun. Namun penurunan drastis dari ekspor CPO lah yang menyeret angka total volume ekspor.

  • RBD Palm Olein masih menjadi produk ekspor utama dengan peningkatan 35% menjadi 5,6 juta ton. Hasil peningkatan ini dapat diatributkan oleh dasar yang rendah tahun lalu akibat lockdown karena pandemi Covid-19. RBD Palm Olein sering digunakan sebagai bahan baku pangan, maka pandemi yang menghancurkan sektor HoReCa pada tahun 2020 sangat menggerus ekspor RBD Palm Olein.
  • RBD Palm Oil mencatat peningkatan tertinggi sebesar 40% karena RBD Palm Oil memiliki tarif pungutan ekspor yang lebih rendah sebesar USD 121/ton dibandingkan CPO yang tarif PE nya sebesar USD 175/ton, dan RBD Palm Oil adalah produk turunan pertama dari CPO yang bisa dirubah menjadi berbagai macam produk turunan lainnya. Hal ini memberi keunggulan harga sehingga meningkatkan daya saing RBD Palm Oil terhadap CPO.

Rincian Ekspor Sawit Indonesia

Periode 2020 – Juli 2021; Dalam %

Pangsa Pasar RBD Palm Olein (15119037)

  • Ekspor Cangkang Kernel Sawit menempati urutan ketiga dengan peningkatan 14% ke hampir 2 juta ton. Pembeli utama produk ini adalah Jepang yang mencakup 89% ekspor cangkang kernel sawit Indonesia. Permintaan cangkang dari Jepang telah meningkat secara konsisten sejak 2017 untuk meningkatkan porsi EBT Jepang melalui pembangkit listrik tenaga biomassa yang menggunakan cangkang kernel sawit sebagai bahan baku.

Pangsa Pasar RBD Palm Oil (15119020)

  • Volume ekspor CPO menurun drastis sebesar 65% pada periode Jan-Jul 2021, dari 4,3 juta ton menjadi hanya 1,5 juta ton. Hal ini disebabkan oleh komitmen pemerintah untuk meningkatkan penyerapan FAME dari 8,4 juta KL pada tahun 2020 kemarin hingga memenuhi target sebesar 9,2 juta KL tahun ini.  Selain  itu,  pungutan  dan bea keluar ekspor CPO yang lebih tinggi dibanding produk turunannya juga mendorong produsen untuk lebih mendorong penggunaan CPO sebagai pencampuran biodiesel dalam negeri dibandingkan sebagai produk ekspor.

Leave a Reply

Your email address will not be published.