Potensi Used Cooking Oil (UCO) sebagai Bahan Baku Green Diesel Di Indonesia dan Negara Lainnya

Peningkatan Drastis pada Pungutan Ekspor dan Pengeluaran BPDPKS Di Tahun 2021 Berlanjut dengan Capaian Rekor Baru Masing-Masing Indikator

UCO Mulai Menarik di Pasar Eropa

Used cooking oil atau minyak jelantah merupakan
bahan baku bahan bakar HVO dengan karbon
rendah yang telah tersedia baik secara teknologi
maupun komersial telah tersedia. UCO merupakan
feedstock yang murah dan relatif sederhana untuk
dikonversi menjadi biodiesel. Penggunaan UCO
saat ini meningkat drastis terutama di Eropa. Sejak
tahun 2011 impor untuk UCO di pasar Eropa
sangatlah rendah hanya 0,68 juta ton. Memasuki
tahun 2016 import meningkat 360% menjadi 2,4
juta ton dalam waktu lima tahun.

Potensi UCO di Indonesia dan Manfaat

Indonesia memiliki potensi yang besar akan sumber daya UCO. Dari 16 juta kilo liter konsumsi minyak goreng Indonesia, sekitar 3 juta kilo liter UCO yang dapat dikumpulkan. Saat ini ekspor UCO sebagian besar ditujukan ke Belanda dengan total nilai ekspor mencapai USD 23,6 juta.

Dari segi keekonomian, meskipun UCO memiliki biaya konversi yang lebih mahal daripada CPO, namun HIP UCO lebih rendah dibandingkan CPO.

Potensi UCO di beberapa negara

Tiongkok dan India merupakan negara yang memilik surplus UCO. Negara-negara yang melakukan ekspor UCO memberikan insentif untuk meningkatkan pengumpulan UCO baik untuk digunakan dalam negeri untuk program biodiesel atau untuk ekspor. Saat ini Tiongkok menjadi negara dengan potensi UCO terbesar di dunia mencapai 5.1 juta ton per tahun.

Pengalaman Kebijakan Pengumpulan UCO di Beberapa Negara

Saat ini negara-negara di Eropa banyak melakukan impor UCO dari negara di Asia dan AS. Hal yang terpenting untuk memanfaatkan UCO adalah mekanisme pengumpulan UCO dari satu tempat ke storage UCO.